Ibu

Terimakasihku padamu, untukku melihat dunia
Engkau bergerak dari peristirahatan hanya karenaku
Namun aku tetap menguji kesabaranmu
Engkau lengkapi hasil dari setiap pemikiranku
Namun aku terus menghimpun beban dijiwa ragamu
Sekali aku taburkan dambaanmu, tak pernah berhenti aku membuat kepingan hatimu
Namun engkau tetaplah dengan kasih sayangmu
Wahai engkau surgaku…

Aku tak dapat membalasmu
Tak kunjung aku menginginkan pengetahuan itu
Dengan angkuh duniaku, aku menanggalkan kemuliaanmu
Maafkan aku, dengan perlengkapanku,, aku ikrarkan kebahagiaanmu
Wahai engkau pelantun sukmaku…

Untuk mewangi jejakku, agar terjaga makanan batinku,, semerbak santun jiwamu beriring menengahkanku
Dimana kudapati kelebihan sekedarnya daripada itu
Jika bukanlah padamu, hampir keseluruhan tempat bagiku
Wahai engkau ibuku…

Source: http://www.puisiku.net/tema-umum/i-b-u.htm

Ibu, Malaikatku

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya
kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?

Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan
menjaga dan mengasihimu."

"Tapi disini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu
akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika
saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang
pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan
mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"

"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"

"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat
mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi."

"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Saya, dan akan
mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar,
dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?

"Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."

Source: http://byoluciayppi.blogspot.com/2009/09/ibu-malaikatku.html

Puisi untuk Ibu (3)

Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…

Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Sumber: http://ati-rahma.blogspot.com/2005/02/puisi-untuk-ibu.html

Thanks to you

Thank you for teaching me how to love
Showing me what the world means
What I've been dreamin' of
And now I know, there is nothing that I could not do
Thanks to You

For teaching me how to feel
Showing me my emotions
Letting me know what's real
From what is not
What I've got is more that I'd ever hoped for
And a lot of what I hope for is
Thanks to you

No mountain, no valley
No time, no space
No heartache, no heartbreak
No fall from grace
Can't stop me from believing
That my love will pull me through
Thanks to You


(Oh There's)There's no mountain, no valley
No time, no space
No heartache, no heartbreak
No fall from grace
Can't stop me from believing
That my love will see me through
Thanks to You
Thanks to You

For teaching me how to live
Putting things in perspective
Showing me how to give
And how to take
No mistake
We were put here together
And if I breakdown
Forgive me but it's true
That I'm aching with the love I feel inside
Thanks to You
Thanks to you

Kasih Sayangmu, Ibu ...

Ibu…Maafkan aku…sejak lahir hingga kudewasa
Selalu menyusahkan hidupmu
Tak kan pernah bisa kubalas jasa – jasamu
Tak akan bisa ibu …

Meskipun ku belikan rumah mewah untukmu …
Takkan bisa menggantikan kenyamanan rahimmu,
saat aku menginap di sana selama 9 bulan

Hari demi hari,minggu demi minggu dan bulan demi bulan
bertambah berat dan nakalnya tendanganku di dalam rahimmu,
Tidak membuatmu enggan membawaku kemanapun kau pergi
Kau tidak mau kehilangan aku
Sampai sekarang …tidak pernah kau tagih uang sewa rahimmu padaku

Ibu …Takkan bisa kubayar pengorbanan nyawamu sewaktu melahirkanku
Nafasmu bisa saja berhenti sewaktu – sewaktu dan untuk selamanya
Tetapi itu semua kau
Itu semua demi aku
Demi anakmu untuk bisa melihat terangnya dunia
Demi anakmu untuk bisa menggapai harapan yang terbentang

Setelah lahir…. belum puas aku merepotkanmu
Selama setahun atau dua tahun???

Bahkan aku lupa ibu
Setiap malam selalu kuganggu jam tidurmu dengan tangisan cengengku
Maafkan aku ibu…aku haus tetapi aku tidak bisa bilang,
aku cuma bisa menangis
Oh ibu …betapa halus hatimu sehingga bisa mengerti bahasa dan keinginanku

Dinginnya malam tak membuatmu enggan secepatnya bangkit meraihku
Kau dekap aku dan kau beri apa keinginanku
Belaian dan dekapanmu memberikan kehangatan di dalam hatiku
Senyum tulus yang terpancar dari wajah kuyumu, memberikan ketenangan dan kedamaian
di dalam keresahanku

Dan sampai sekarang… tidak pernah kau beri aku tagihan bon ASI
Tidak pernah ada perhitungan kasih sayang yang kau tagihkan
Ibu…sekarang aku sudah dewasa
Tetapi…kenapa aku tidak puas menyusahkanmu
Dinginnya pagi tidak membuatmu surut untuk menyiapkan sarapan pagi yang bergizi
Harapanmu hanya…supaya aku bisa konsentrasi belajar, pintar
Dan bisa meraih cita – cita yang kuinginkan

Tetapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya
Kubantah selalu perintahmu,
kuabaikan selalu nasehatmu
Tetapi tidak pernah ada di dalam kamusmu
untuk merancang strategi pembalasan yang jahat padaku
Senyummu, ketulusan cinta itulah balasanmu

Aku tak heran ibu,
jika ada yang bertanya,
“Siapakah orang yang kau hormati?”
Lalu dijawab “ Ibumu,ibumu, ibumu lalu ayahmu”
Namamu disebut tiga kali dibandingkan dengan ayah, ibu
Betapa dimuliakannya dirimu
karena ketulusan kasih sayangmu
Meskipun kau tak mengharapkannya tetapi engkau layak mendapatkannya

Ibu…hanya doa yang bisa kuberikan padamu
Kupanjatkan setiap hari untuk kebahagiaan dan keselamatanmu
di dunia dan akhirat
Dan terimakasih atas kasih sayangmu padaku

(Sumber: http://www.family-writing.com/puisi/kasih-sayangmu-ibu-your-great-love-mother.html)

Panggilan dari Ibu

Begitu aku turun dari kapal penumpang, desauan angin Sungai Kapuas yang begitu lembut dan segarnya langsung menerpa wajahku. Kemudian mataku menyapu keadaan di Pelabuhan Pontianak. Ternyata masih seperti dahulu. Tak terlalu banyak perubahan yang kulihat. Keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan ketika bertahun-tahun yang lalu kutinggalkan pelabuhan ini untuk menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Aku juga mencoba-coba mengedarkan pandanganku untuk melihat ke arah hulu, di mana terletak daerah Simpang Tiga yang bersejarah itu, yaitu simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Landak, yang tak jauh dari situ terdapat Masjid Jami’ Kesultanan Pontianak dan Kampong Beting.

Read more ...

Mawar Untuk Ibu

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.

Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."

Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum., Lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Mother, I love you ...

A mother is the truest friend we have,
When trials, Heavy, and sudden, Fall upon us
When adversity takes the place of prosperity
When friends who rejoice with us in our sunshine,

Desert us when Trouble thicken around us,
Still will she cling to us,
And endeavor by her kind Precepts,
And counsels to dissipate the Clouds of Darkness,
and cause peace to return to our hearts.

When you are a Mother, You are never really alone in your thoughts.
A mother always has to think twice,
Once for herself and once for her child.

I wish always together with you mother
Accompany you every day
I don’t wish leave

Mother I love you………

Ibu

Karya: Khalil Gibran

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibinya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

Puisi Untuk Ibu (2)

Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…

Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
"Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain"
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Sumber: http://ati-rahma.blogspot.com/2005/02/puisi-untuk-ibu.html

Tatapan Penuh Cinta…

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata- mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu… Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya…

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.

Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.

Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.

Tanpa kata, tanpa suara dia berkata… “betapa lelahnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya …

( sumber : http://www.emotivasi.com )

Puisi untuk Ibu

Meskipun dirimu manusia biasa
bagiku engkaulah malaikatku
yang tak pernah lelah
membimbingku

ibu, maafkanlah aku
yang dulu sering tidak memahamimu
yang kadang meremehkanmu

ibu engkaulah suwargo katon itu
tak pernah terlambat memberi kedamaian
semoga kau bahagia selalu
semoga aku dapat membahagiakanmu

ibu, hari ini kami memperingatimu
ibu, “selamat hari ibu”
terimalah salamku
dari anakmu

*suwargo katon, dalam bahasa jawa berarti surga yang terlihat, surga yang menjadi nyata.

( sumber: http://namora.org/blog/2006/12/22/puisi-untuk-ibu.html )



Recommended Money Makers

  • Chitika eMiniMalls
  • WidgetBucks
  • Text Link Ads
  • AuctionAds
  • Amazon Associates