Blog Kumpulan Puisi

Selain membaca-baca puisi di blog ini, ada blog lain loh yang bisa kalian jadikan referensi atau sumber bacaan puisi,

Blognya masih relatif baru, sehingga ada kesempatan bagi kita mengikuti perkembangannya dari blog yang baru buka ini,

Masih penasaran? Silakan kunjungi blog nya di Ruangpuisi.com

Ibu

Terimakasihku padamu, untukku melihat dunia
Engkau bergerak dari peristirahatan hanya karenaku
Namun aku tetap menguji kesabaranmu
Engkau lengkapi hasil dari setiap pemikiranku
Namun aku terus menghimpun beban dijiwa ragamu
Sekali aku taburkan dambaanmu, tak pernah berhenti aku membuat kepingan hatimu
Namun engkau tetaplah dengan kasih sayangmu
Wahai engkau surgaku…

Aku tak dapat membalasmu
Tak kunjung aku menginginkan pengetahuan itu
Dengan angkuh duniaku, aku menanggalkan kemuliaanmu
Maafkan aku, dengan perlengkapanku,, aku ikrarkan kebahagiaanmu
Wahai engkau pelantun sukmaku…

Untuk mewangi jejakku, agar terjaga makanan batinku,, semerbak santun jiwamu beriring menengahkanku
Dimana kudapati kelebihan sekedarnya daripada itu
Jika bukanlah padamu, hampir keseluruhan tempat bagiku
Wahai engkau ibuku…

Source: http://www.puisiku.net/tema-umum/i-b-u.htm

Ibu, Malaikatku

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya
kepada Tuhan : "Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah"?

Dan Tuhan menjawab, "Saya telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan
menjaga dan mengasihimu."

"Tapi disini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia."

"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu
akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia."

"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika
saya tidak mengerti bahasa mereka ?"

"Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang
pernah kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan
mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."

"Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?"

"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

"Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya ?"

"Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat
mengancam jiwanya."

"Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi."

"Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang Saya, dan akan
mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada di sisimu."

Saat itu Surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar,
dan sang anak bertanya perlahan, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah Kamu memberitahuku nama malaikat tersebut ?

"Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu."

Source: http://byoluciayppi.blogspot.com/2009/09/ibu-malaikatku.html

Puisi untuk Ibu (3)

Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…

Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Sumber: http://ati-rahma.blogspot.com/2005/02/puisi-untuk-ibu.html

Thanks to you

Thank you for teaching me how to love
Showing me what the world means
What I've been dreamin' of
And now I know, there is nothing that I could not do
Thanks to You

For teaching me how to feel
Showing me my emotions
Letting me know what's real
From what is not
What I've got is more that I'd ever hoped for
And a lot of what I hope for is
Thanks to you

No mountain, no valley
No time, no space
No heartache, no heartbreak
No fall from grace
Can't stop me from believing
That my love will pull me through
Thanks to You


(Oh There's)There's no mountain, no valley
No time, no space
No heartache, no heartbreak
No fall from grace
Can't stop me from believing
That my love will see me through
Thanks to You
Thanks to You

For teaching me how to live
Putting things in perspective
Showing me how to give
And how to take
No mistake
We were put here together
And if I breakdown
Forgive me but it's true
That I'm aching with the love I feel inside
Thanks to You
Thanks to you

Kasih Sayangmu, Ibu ...

Ibu…Maafkan aku…sejak lahir hingga kudewasa
Selalu menyusahkan hidupmu
Tak kan pernah bisa kubalas jasa – jasamu
Tak akan bisa ibu …

Meskipun ku belikan rumah mewah untukmu …
Takkan bisa menggantikan kenyamanan rahimmu,
saat aku menginap di sana selama 9 bulan

Hari demi hari,minggu demi minggu dan bulan demi bulan
bertambah berat dan nakalnya tendanganku di dalam rahimmu,
Tidak membuatmu enggan membawaku kemanapun kau pergi
Kau tidak mau kehilangan aku
Sampai sekarang …tidak pernah kau tagih uang sewa rahimmu padaku

Ibu …Takkan bisa kubayar pengorbanan nyawamu sewaktu melahirkanku
Nafasmu bisa saja berhenti sewaktu – sewaktu dan untuk selamanya
Tetapi itu semua kau
Itu semua demi aku
Demi anakmu untuk bisa melihat terangnya dunia
Demi anakmu untuk bisa menggapai harapan yang terbentang

Setelah lahir…. belum puas aku merepotkanmu
Selama setahun atau dua tahun???

Bahkan aku lupa ibu
Setiap malam selalu kuganggu jam tidurmu dengan tangisan cengengku
Maafkan aku ibu…aku haus tetapi aku tidak bisa bilang,
aku cuma bisa menangis
Oh ibu …betapa halus hatimu sehingga bisa mengerti bahasa dan keinginanku

Dinginnya malam tak membuatmu enggan secepatnya bangkit meraihku
Kau dekap aku dan kau beri apa keinginanku
Belaian dan dekapanmu memberikan kehangatan di dalam hatiku
Senyum tulus yang terpancar dari wajah kuyumu, memberikan ketenangan dan kedamaian
di dalam keresahanku

Dan sampai sekarang… tidak pernah kau beri aku tagihan bon ASI
Tidak pernah ada perhitungan kasih sayang yang kau tagihkan
Ibu…sekarang aku sudah dewasa
Tetapi…kenapa aku tidak puas menyusahkanmu
Dinginnya pagi tidak membuatmu surut untuk menyiapkan sarapan pagi yang bergizi
Harapanmu hanya…supaya aku bisa konsentrasi belajar, pintar
Dan bisa meraih cita – cita yang kuinginkan

Tetapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya
Kubantah selalu perintahmu,
kuabaikan selalu nasehatmu
Tetapi tidak pernah ada di dalam kamusmu
untuk merancang strategi pembalasan yang jahat padaku
Senyummu, ketulusan cinta itulah balasanmu

Aku tak heran ibu,
jika ada yang bertanya,
“Siapakah orang yang kau hormati?”
Lalu dijawab “ Ibumu,ibumu, ibumu lalu ayahmu”
Namamu disebut tiga kali dibandingkan dengan ayah, ibu
Betapa dimuliakannya dirimu
karena ketulusan kasih sayangmu
Meskipun kau tak mengharapkannya tetapi engkau layak mendapatkannya

Ibu…hanya doa yang bisa kuberikan padamu
Kupanjatkan setiap hari untuk kebahagiaan dan keselamatanmu
di dunia dan akhirat
Dan terimakasih atas kasih sayangmu padaku

(Sumber: http://www.family-writing.com/puisi/kasih-sayangmu-ibu-your-great-love-mother.html)

Panggilan dari Ibu

Begitu aku turun dari kapal penumpang, desauan angin Sungai Kapuas yang begitu lembut dan segarnya langsung menerpa wajahku. Kemudian mataku menyapu keadaan di Pelabuhan Pontianak. Ternyata masih seperti dahulu. Tak terlalu banyak perubahan yang kulihat. Keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan ketika bertahun-tahun yang lalu kutinggalkan pelabuhan ini untuk menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Aku juga mencoba-coba mengedarkan pandanganku untuk melihat ke arah hulu, di mana terletak daerah Simpang Tiga yang bersejarah itu, yaitu simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas dan Landak, yang tak jauh dari situ terdapat Masjid Jami’ Kesultanan Pontianak dan Kampong Beting.

Read more ...



Recommended Money Makers

  • Chitika eMiniMalls
  • WidgetBucks
  • Text Link Ads
  • AuctionAds
  • Amazon Associates